Sleman, 18 Juni 2026 – Upaya mengendalikan resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan pemahaman serta keterlibatan masyarakat. Berangkat dari hal tersebut, tim Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Implementasi Konsep One Health melalui Penguatan Antimicrobial Stewardship Berbasis Komunitas di Desa Binaan Wilayah Sleman” pada Kamis (18/6) di Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Hibah Pengabdian kepada Masyarakat FK-KMK UGM Tahun 2026 melalui skema integrasi dengan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM dan Gugus One Health UGM. Kegiatan menyasar masyarakat, khususnya kader kesehatan di Wonokerto, yang memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi kesehatan dan mendorong perubahan perilaku di tingkat keluarga maupun komunitas.

Ketua pelaksana kegiatan, dr. Domas Fitria Widyasari, Sp.MK, menyampaikan bahwa pengendalian AMR perlu diperkenalkan kepada masyarakat melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui konsep One Health, masyarakat diajak memahami bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan. Keterkaitan tersebut menjadi semakin penting dalam menghadapi berbagai ancaman kesehatan, termasuk penyakit zoonosis dan resistensi antimikroba.
Pemahaman tersebut diperkuat melalui materi dari sejumlah narasumber dengan perspektif keilmuan yang saling melengkapi. drh. Yudhi Ratna Nugraheni, M.Sc., Ph.D. menyampaikan materi mengenai Konsep One Health dan Pencegahan Penyakit Zoonosis di Lingkungan Agraris. Materi ini memberikan gambaran mengenai hubungan antara manusia, hewan, dan lingkungan, khususnya pada masyarakat yang hidup di kawasan agraris, serta pentingnya pencegahan penyakit yang dapat ditularkan antara hewan dan manusia.
Selanjutnya, dr. Marselinus Edwin Widyanto Daniwijaya, Ph.D., Sp.MK memberikan materi mengenai Pengenalan Mikrobiologi Dasar serta Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di Komunitas. Peserta diperkenalkan pada peran mikroorganisme dalam kesehatan dan penyakit, cara penularan infeksi, serta langkah-langkah sederhana yang dapat diterapkan untuk mencegah penyebaran infeksi di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Aspek penggunaan antimikroba secara bijak dibahas oleh Prof. apt. Ika Puspitasari, M.Si., Ph.D. melalui materi Antimicrobial Stewardship Berbasis Komunitas dan Manajemen Obat. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya penggunaan obat, khususnya antibiotik, secara tepat dan bertanggung jawab. Edukasi di tingkat komunitas menjadi penting untuk mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak sesuai indikasi sekaligus meningkatkan pemahaman bahwa antibiotik tidak dapat digunakan untuk semua jenis penyakit.
Tidak hanya melalui penyampaian materi, kegiatan juga dirancang secara interaktif melalui sesi diskusi dan workshop “Seeing is Believing” yang dipandu oleh dr. Domas Fitria Widyasari, Sp.MK. Pendekatan tersebut bertujuan membuat konsep mikrobiologi, pencegahan infeksi, serta AMR yang relatif kompleks menjadi lebih mudah dipahami dan dikaitkan dengan praktik sehari-hari oleh para kader.
Pendekatan One Health menjadi benang merah dalam keseluruhan kegiatan. Penggunaan antimikroba pada manusia maupun hewan, interaksi manusia dengan hewan, pencegahan penyakit zoonosis, kebersihan dan sanitasi, serta kondisi lingkungan merupakan faktor-faktor yang saling berkaitan. Oleh karena itu, pengendalian AMR membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari upaya pencegahan sejak tingkat komunitas.
Melalui kegiatan ini, kader kesehatan di Wonokerto diharapkan dapat menjadi penggerak dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, khususnya mengenai penggunaan antimikroba secara bijak dan pencegahan infeksi. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diteruskan kepada keluarga dan masyarakat sehingga pesan mengenai AMR tidak berhenti pada peserta kegiatan, tetapi dapat menjangkau komunitas yang lebih luas.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan literasi mengenai AMR, pencegahan penyakit, dan pengendalian infeksi; SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan pengetahuan dan kapasitas kader kesehatan; SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui edukasi penggunaan antimikroba dan obat secara bertanggung jawab; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui sinergi perguruan tinggi, rumah sakit, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan menjadi landasan untuk mendorong upaya pengendalian AMR yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Melalui penguatan antimicrobial stewardship berbasis komunitas, kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman kader mengenai AMR, tetapi juga mendorong perubahan perilaku dalam penggunaan antimikroba dan pencegahan infeksi. Dengan keterlibatan aktif kader, upaya menghadapi resistensi antimikroba dapat dimulai dari keluarga dan masyarakat sebagai bagian penting dari implementasi One Health.
Oleh: Ayu R