Keamanan pangan merupakan kondisi dan upaya untuk mencegah terjadinya cemaran biologis, kimia, dan fisik pada produk yang dapat merugikan serta mengancam kesehatan. Salah satu ancaman utama berasal dari cemaran biologis akibat keberadaan mikroorganisme yang mampu menurunkan kualitas produk. Sumber kontaminasi ini sangat beragam, mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga penanganan dan penyimpanan yang tidak sesuai standar. Mikroorganisme patogen seperti Salmonella sp., Escherichia coli, dan Staphylococcus aureus dapat menimbulkan risiko kesehatan serius apabila tidak dikendalikan dengan baik. Oleh karena itu, penerapan hygine dan sanitasi yang ketat serta pengawasan mutu melalui metode deteksi yang akurat dan cepat menjadi kunci dalam menjamin keamanan produk dan melindungi konsumen.
Pada Selasa, 21 April 2026, Guru Besar Departemen Mikrobiologi FK-KMK UGM, Prof. dr. Titik Nuryastuti M.Si., Ph.D., Sp. MK(K), menyampaikan pentingnya pengendalian patogen dalam produk pangan dan farmasi melalui kegiatan Workshop on Microbiological Pathogens for Quality Control of Food and Pharmaceutical Products and Application of Rapid Microbiology Method yang diselenggarakan secara hybrid oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Dalam kesempatan tersebut, beliau menegaskan bahwa peningkatan keamanan dan mutu produk memerlukan metode deteksi yang tepat, cepat, dan akurat.

Salah satu inovasi yang dapat diterapkan adalah Rapid Microbiology Method (RMM), yang memungkinkan deteksi cemaran mikroba secara lebih cepat dibandingkan metode konvensional. Teknologi ini memanfaatkan pendekatan berbasis molekuler dan sensorik, seperti Polymerase Chain Reaction (PCR), biosensor, dan sistem deteksi autofluoresensi. Dengan RMM, identifikasi mikroorganisme dapat dilakukan dalam waktu singkat sehingga proses quality control menjadi lebih efisien. Hal ini memungkinkan deteksi dini terhadap kontaminasi, sehingga keputusan dapat diambil lebih cepat untuk mencegah potensi risiko terhadap kesehatan masyarakat.
Implementasi RMM dalam sistem pengawasan mutu memberikan kontribusi signifikan dalam menjamin keamanan produk secara menyeluruh, mulai dari tahap produksi hingga distribusi kepada konsumen. Penerapan sistem keamanan pangan yang baik juga sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals, khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pencegahan penyakit akibat pangan (foodborne diseases). Selain itu, upaya ini turut mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan mendorong praktik produksi yang aman, efisien, dan berkelanjutan.
Dengan demikian, pengendalian patogen tidak hanya berperan dalam menjaga kualitas produk, tetapi juga menjadi bagian penting dalam sistem kesehatan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
Editor: Ayu