+62 811 2511 293

Jl. Farmako, Sekip Utara, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

bm.fk@ugm.ac.id

Guru Besar Mikrobiologi FKKMK UGM Imbau Waspada Varian Baru Covid-19 “Cicada”

Munculnya varian baru Covid-19 yang dikenal dengan nama Cicada menimbulkan kekhawatiran di berbagai negara. Meski demikian, Guru Besar Departemen Mikrobiologi FK-KMK UGM, Prof. dr. Tri Wibawa Ph.D., Sp. MK(K), memastikan bahwa hingga saat ini varian tersebut belum ditemukan di Indonesia dan belum menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan varian sebelumnya.

Beliau menjelaskan bahwa varian ini merupakan bagian dari COVID-19, tepatnya turunan Omicron BA.3.2 yang pertama kali teridentifikasi di Afrika Selatan pada November 2024. Setelah sempat tidak terdeteksi, varian ini kembali dilaporkan dan hingga Februari 2026 telah menyebar ke 23 negara. Meski demikian, belum ada laporan masuknya varian Cicada ke Indonesia. “Data yang tersedia saat ini tidak menunjukkan bahwa Cicada memiliki tingkat keganasan yang lebih tinggi dibandingkan varian sebelumnya,” ujarnya.

Dari sisi klinis, beliau menegaskan bahwa tidak terdapat perbedaan mencolok antara infeksi Cicada dengan varian Covid-19 lain. Gejala yang muncul pun relatif serupa, mulai dari gejala ringan seperti flu hingga kondisi yang lebih berat, bergantung pada daya tahan tubuh masing-masing individu. Dengan demikian, hingga kini belum ada ciri khas khusus yang dapat membedakan infeksi Cicada dari infeksi Covid-19 lainnya.

Terkait vaksinasi, beliau menyampaikan bahwa kemunculan varian baru memang berpotensi memengaruhi efektivitas vaksin. Namun demikian, individu yang telah menerima vaksin atau pernah terinfeksi sebelumnya tetap memiliki perlindungan imunologis yang lebih baik. Kondisi ini membuat tubuh lebih siap dalam menghadapi paparan virus dibandingkan mereka yang belum memiliki riwayat vaksinasi maupun infeksi.

Foto 1. Kegiatan swab saat pandemi Covid-19

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa langkah pencegahan terhadap varian Cicada tidak berbeda dari upaya pengendalian Covid-19 secara umum. Masyarakat diimbau untuk tetap menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga kebersihan lingkungan, serta menghindari kerumunan saat kondisi tubuh tidak fit. Selain itu, segera memeriksakan diri ke tenaga medis jika mengalami gejala juga menjadi langkah penting dalam mencegah penularan lebih lanjut. Upaya promotif dan preventif ini mencerminkan kontribusi nyata dalam mendukung pencapaian SDG 3 (Good Health and Well-being), sekaligus memperkuat peran institusi pendidikan dalam diseminasi pengetahuan (SDG 4 – Quality Education) dan kolaborasi global dalam menghadapi isu kesehatan (SDG 17 – Partnerships for the Goals).

Dengan kondisi yang masih terkendali di dalam negeri, masyarakat diharapkan tetap tenang namun tidak lengah. Kewaspadaan dan kedisiplinan dalam menerapkan langkah-langkah pencegahan dasar tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi penyebaran varian baru ini.

Oleh: Ayu